Estetika dan cara pandang Barat

Kebudayaan Barat masuk melalui seluruh aspek kehidupan manusia diseluruh dunia. Hal-hal yang berkembang di Barat, saat ini, menjadi panutan bagi seluruh umat manusia diseluruh dunia. Menurut pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun , hal ini merupakan suatu keniscayaan di mana peradaban yang sedang menang, jaya, dan maju, akan selalu menjadi panutan bagi peradaban-peradaban lain yang kalah. Dalam arti lain, peradaban yang saat ini kalah, sedang berada dibawah, atau mengalami stagnasi bahkan kemunduran, pasti menjadi pihak yang mengekor kepada peradaban yang saat ini sedang jaya: peradaban Barat.
Salah satu yang mengalami perubahan adalah dalam aspek fashion. Cara berpakaian Barat yang saat ini ada, dianggap oleh Barat sendiri sebagai bentuk ‘perkembangan’. Gaya berdandan dan berpakaian yang mengikuti era modernisme dan postmodernisme secara cepat menyebar keseluruh penjuru dunia dengan image yang ‘cool’ dan ‘up to date’.
Umat Islam termasuk yang menjadi sasaran sekaligus di sisi lain sebagai penikmat fashion Barat. Mayoritas umat Islam yang tinggal di negara-negara Islam bukan hanya sudah lupa dengan kewajiban-kewajiban dalam menutup aurat sehingga kaidah-kaidah berpakaiannya jauh dari kaidah-kaidah berpakaian ala Islam, tapi lebih parah lagi, mereka menganggap fashion yang terbaik adalah apa yang sedang trend di Barat. Tingkat ketergantungan umat Islam melihat dunia fashion Barat sangat tinggi, hingga busana-busana Muslim dan Muslimah yang seharusnya lebih mengedepankan nilai-nilai syariat harus mengalami ‘akulturasi’ dengan gaya-gaya desain Barat.
Ketika berbicara tentang dunia fashion di Barat, maka pembahasannya akan masuk dalam ranah seni dan desain. Kehadirannya di Barat sangat terkait dengan berbagai permasalahan yang ada dalam masyarakat (konsumen) seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, seni, lingkungan sekitar, dan berbagai faktor lainnya. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gini Stephen Frings, seorang ahli fashion Barat:
“Because fashion reflects the way the consumer thinks and lives, it is influenced by the same social, economic, technological, and other enviromental forces, that influence all other aspects of people lives. Executives on all level of fashion industry must be aware of these environmental conditions if they are to make informed decision about styling and merchandising.”(Stephen F, Gini, “Fashion From Concept to Consumer“)
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Umberto Eco (1976) yang mengatakan bahwa fashion merupakan alat semiotika, yang didalamnya penuh dengan makna-makna. Seperti mesin yang dapat mengkomunikasikan pesan dari sang pemakai kepada orang lain yang melihat. Lalu apa yang hendak dikomunikasikan? Tentu tidak lepas dari identitas dari pemakainya.
Entah dari sudut pandang kelas sosial, ekonomi, budaya, bahkan tingkat pendidikannya.
Namun ketika fashion berada dalam ranah seni dan desain ala Barat, maka pembahasan fashion di Barat akan menggunakan paradigma Barat dalam melihat apa itu seni dan desain. Tentu hal ini menuntut pandangan tentang bagaimana Barat mendefinisikan estetika dan etika didalam seni dan desain fashion itu sendiri.
Ada dua hal yang harus dimengerti tentang seni menurut Barat, yaitu tentang pemahaman mereka terhadap kedudukan estetika dan etika. Kedua aspek inilah yang nantinya akan memberikan pembeda paling kontras antara desain/seni fashion di Barat dengan fashion Islam.
Istilah estetik biasanya dikaitkan dengan arti ‘citarasa yang baik’, ‘keindahan’ dan ‘artistik’. Estetika merupakan kajian yang menjadikan estetik sebagai objeknya. Dalam tradisi intelektual, biasanya estetika dipahami sebagai satu dari banyak cabang ilmu filsafat yang membahas tentang seni dan objek lainnya yang memiliki nilai estetik (baca: keindahan).
Di Barat, seni merupakan bagian dari kebudayaan modern yang mengedepankan rasionalisme dan materialisme.Kebudayaan yang demikian itu berusaha membuang aspek spiritualitas dan religiositas sejauh-jauhnya.
Artinya, tidak ada batasan apapun, termasuk agama, yang mereka gunakan dalam mengembangkan karya-karya seni dan desain di Barat.
Keindahan di Barat, seperti dalam tradisi modern, berakar pada realisme dan naturalisme. Hal ini yang menjadi alasan mengapa di Barat, fashion-fashion yang dianggap modern adalah yang mampu memberikan kesan natural dan apa adanya. Bahkan jika diterjemahkan dalam cara pandang mereka terhadap keindahan, maka bentuk tubuh manusia dianggap sebagai estetika seni tersediri, sehingga tidak menjadi masalah di Barat ketika tubuh telanjang dipamerkan di catwalk-catwalk pentas desain fashion.
Dimensi Ruhiyah
Sementara dalam Islam, jika cara pandang umat Islam terhadap fashion sudah tidak lagi menggunakan cara pandang Islam, maka aktifitas berpakaian bukan lagi bernilai ibadah sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kita untuk menutup aurat, berpakaian rapi, bersih dan suci.
Jika kita melihat fashion tidak pada aspek ruhiyah-nya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ajaran-ajaran Islam, maka sudah pasti kita akan melihat fashion hanya dari dimensi fisiknya saja. Sebagaimana Barat ‘mengajarkan’ fashion sebagai trend dan gaya, kita akan melulu memperhatikan cara berpakaian dari dimensi-dimensi yang materialistis alias duniawi. Motif berpakaian kita hanya sampai pada tataran agar kita dianggap memiliki kelas sosial tertentu, status cantik atau ganteng, berpendidikan atau tidak, norak atau tidak, dan lain sebagainya.
Tidak salah jika seseorang berpakaian dengan maksud ingin terlihat cantik. Tapi jika tujuan itu mengalahkan aturan-aturan tata berpakaian yang disyariatkan olh agama yang masing-masing kita bawah (baik Islam atau budaya lokal yang sering dibanggaan sebagaian orang) maka sesungguhnya cara berpikir Barat-lah yang kita pakai di mana estetika itu dilihat dari dimensi fisiknya. Bukan dimensi ruhiyahnya.
Sekarang, cara pandang dangkal ini sudah menjangkiti kita semua. Bahkan, pada mereka yang juga sok sering mengaku mempertahankan budaya lokal sendiri.
Bagi umat Islam sendiri, cara pandang sangat penting artinya. Yang mana yang kita pakai akan mempengaruhi bagaimana hasil yang akan kita terima di akhirat nanti.
Nah, sekarang, saatnya memilih, cara pandang Barat atau cara pandang kita sendiri? Silakan dipilih. Semua ada ditangan kita masing-masing. Wallahu a’lam.*

All About Me

img_8996

Aku bocah 18 tahun yang masih dalam proses pencarian jati diri, begitu banyak proses yamg kulewati, entah suka atau duka tapi aku juga tak mengerti mengapa aku tak bisa merasakan apapun, bagaimana itu sakit hati, kecewa senang seakan semua itu hambar, tak ada rasanya….

berusaha untuk terlihat baik walau sebenarnya tidak, berusaha ada saat dibutuhkan , berusaha selalu hadir untuk yang membutuhkan, sehingga mungkin porsi untuk diriku sendiri belum terpenuhi sepenuhnya, porsi menimba ilmu lebih, porsi untuk banyak belajar…..

tapi aku merasa senang , tanpa ada beban sedikitpun …tapi terkadang perilaku dan sikap yang tak terkendali membuatku lebih banyak berfikir untuk terus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik……
menjadi sosok yang membanggakan dan berguna untuk sekelilingku……

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAY….

Mungkin yang kualami saat ini merasakan kegundahan hati yangmendalam disaat jauh dari Allah.

Disaat waktu yang terbuang sia-sia, saat banyak hal yang dilakukan tidak banyak guna, padahal setiap detik waktu adalah ibadah…..

disaat belum bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya….waktu banyak yang dibuang sia-sia…..

MULAI DETIK INI JUGA WAKTUNYA UNTUK BERUBAH…….BISMILLAH SEMOGA ISTIQOMAH….

TIDAK ADA HAL YANG TERASA BERAT DISAAT KITA MELAKUKAN SEGALA HAL HANYA DAN UNTUK ALLAH…..

Me

Hidup yang penuh pilihan membuatku benar-benar harus memilih, banyak hal yang tak bisa tercapai.tapi pada hakikatnya Allah kebih tau mana yang kita inginkan dan kita butuhkan,kita hanyalah pemain skenario yang telah dibuat sang khalik, hanya perlu menjalani, berusaha menjadi yang lebih baik untuk proses pemantasan diri untuk menghadapNya nanti,
HIDUPLAH UNTUK AKHIRATMU SEAKAN ENGKAU MATI BESOK
DAN HIDUPLAH UNTUK DUNIAMU SEAKAN ENGKAU HIDUP SELAMANYA
JADIKANLAH NAFAS,DETAK JANTUNGMU LANGKAHMU HANYALAH UNTUNKNYA
DAN MENGHARAP RIDHONYA

Bersyukur

Seorang Guru memberikan tugas kepada siswanya untuk menuliskan 7 Keajaiban Dunia.

Malamnya sang Guru memeriksa tugas itu,
Sebagian besar siswa menulis demikian:

Tujuh Keajaiban Dunia :
1. Piramida.
2. TajMahal.
3. Tembok Besar Cina.
4. Menara Pisa.
5. Kuil Angkor.
6. Menara Eiffel.
7. Candi Borobudur.

Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama.

Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut

Tapi Guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir..

Tapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang Guru terdiam.
Lembar terakhir itu milik si Gadis Kecil Pendiam..

Isinya seperti ini :

*Tujuh Keajaiban Dunia:*
1. Bisa Melihat,
2. Bisa Mendengar,
3. Bisa Menyentuh,
4. Bisa Disayangi,
5. Bisa Merasakan,
6. Bisa Tertawa, dan
7. Bisa Mencintai…

Setelah duduk diam beberapa saat, sang Guru menutup lembaran tugas siswanya.
*Kemudian menundukkan kepalanya berdo’a…*

_Mengucap syukur untuk Gadis Kecil Pendiam di kelasnya yang telah mengajarkannya sebuah Pelajaran Hebat, yaitu:_

*Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban…*

*Keajaiban itu, ada di sekeliling kita, untuk kita miliki dan tak lupa untuk kita ” SYUKURI ” !!!*

_*Apa yang kita cari dalam Hidup ini…?*_

◆ *Kita hidup di kebun, kita Merindukan kota …*

◆ *Kita hidup di kota, merindukan kebun…*

◆ *Kalau kemarau, kita tanya kapan hujan?*

◆ *Di musim hujan, kita tanya kapan kemarau ?*

◆ *Diam di rumah, inginnya pergi…*

◆ *Setelah pergi, inginnya pulang ke rumah…*

◆ *Waktu tenang, cari keramaian…*

◆ *Waktu ramai, cari ketenangan…*

◆ *Ketika masih bujang mengeluh ingin nikah, Sudah berkeluarga mengeluh belum punya anak, setelah punya anak mengeluh betapa beratnya biaya Hidup dan Pendidikan…*

_*Ternyata SESUATU itu tampak indah, karena belum kita miliki…*_

◆ *Kapankah kebahagiaan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki…*

*Jadilah Pribadi yang SELALU BERSYUKUR*
*dengan rahmat yang sudah kita miliki…*

*Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini..??*

*Menutupi telapak tangan saja sulit…*

*Tapi kalau daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah “BUMI” dengan Daun,*

*Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apa pun, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana*
*Bumi ini pun akan tampak buruk…*

*Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil…*

*Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku…*

*SYUKURILAH apa yang sudah kita miliki sebagai modal untuk meMULIAkanNYA…*

_*Karena Hidup adalah WAKTU yang dipinjamkan,*_
_*dan Harta adalah BERKAH yang dipercayakan…*_

_*Dan semua itu, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.*_

*Jadi… Bersyukurlah atas Nafas yang masih kita miliki…*

*Bersyukurlah atas Keluarga yang kita miliki…*

*Bersyukurlah atas Pekerjaan yang kita miliki…*

*Bersyukur & selalu bersyukur di dalam segala hal.*

*Segeralah berlomba dalam kebaikan…*

#BerbagiKisah

muharram

Engkaukah Yusuf itu
di tengah ribuan Zulaikha
yang memenuhi setiap ruang
namun memilih memandang keindahan tuhan

Engkaukah Yusuf itu
yang memilih bilik dingin kumuh penjara yang senyap
daripada mencumbui keindahan Zulaikha

Engkaukah Yusuf itu
yang berbisik lirih
ditengah deburan keras gelombang syahwatnya dengan bibir bergetar
melafalkan “innahu rabbii ahsana maswaya”

Engkaukah Yusuf itu
yang tegak berdiri
ditengah serbuan godaan dunia
lalu bersuara dengan gagah perkasa
“Rabbi assijnu ahabbu illaiyya mimma yad’unanii ilaihi”
“Daripada kehilangan cintaMu
aku memilih kehilangan cintanya”

Masihkah Yusuf-Yusuf itu ada
ketika seluruh ruang dipenuhi Zulaikha
ketika seluruh waktu yang muncul adalah wajahnya…
Dimanakah bisa sembunyi dari hardikan rayuannya
Dimanakah ada tempat untuk sendiri
untuk sejenak tidak memandang keindahanya…
Selain penjara!

Seperti Yusuf yang dengan gagahnya berkata
“penjara lebih aku pilih daripada kalah oleh rayuanya!”
masihkah ada suara itu sekarang
masihkah Yusuf-Yusuf itu ada!

# Ust. Hasib Amrullah M. Ud.
……1 Muharram 1438

Taha Husain : Tuna Netra yang mendunia

Mungkin ada benarnya ungkapan “Lebih baik buta Mata ketimbang buta Hati ” toh, banyak dari mereka memiliki banyak kelebihan dibalik kekurangannya dan Taha Husain adalah salah satu contohnya. Taha kecil dilahirkan di desa Maghagah, Mesir, pada tahun 1889, anak ketujuh dari tiga belas bersaudara. Keluarganya hidup di desa sederhana. Sewaktu kecil ia mendapat penyakit yang membuatnya kehilangan penglihatan untuk selama-lamanya.

Pendidikan Taha kecil dimulai dengan menamatkan belajar di Madrasah di desanya. Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Al Azhar untuk memperdalam agama. Kendati beliau kurang begitu menyukai lebaga ini (Albert Hourani, Arabic Throunght in The Liberal Age, London : Oxford University Press), namun di kemudian hari lembaga ini sangat berpengaruh bagi kehidupan Taha Husain. Dikampus inilah ia mengenal Muhammd Abduh dan pemikir-pemikir rasional lainnya.

Setelah 10 tahun di Azhar, selanjutnya ia belajar bahasa Perancis dan mengikuti kuliah-kuliah di Universitas Kairo yang diberikan oleh orientalis-orientalis Eropa, seperti Littman, Nallino dan Santillana. Pada tahun 1951, ia pergi ke Prancis, disanalah ia banyak membaca karya-karya Anatoli France, Durkheim dan Sosiolog Islam Ibnu Khaldun yang kemudian menjadi kajian Tesisnya. Selama empat tahun ia tinggal di Prancis, ia juga menikahi putri Prancis.

Sepulang dari Prancis, ia bekerja sebagai dosen di Universitas Cairo, Universitas Alexandria dan sempat memangku jabatan sebagai Rektor Universitas Faruq. Dari tahun 1950-1952 ia menjadi Meteri Pendidikan Mesir di masa pemerintahan partai Wafd. Tidak berlebihan jika Taha Husein dikatakan orang hebat, selain pernah dipercaya sebagai menteri, dalam keadaan tidak mempunyai penglihatanpun ia berkali kali memperoleh gelar Doktor Honoris Causa, dari University of Montpellier (1946), Roma (1950), Oxford University, Inggris (1950), University of Athens, Yunani (1951).

Karya Tulis

Taha Husain, adalah sosok manusia tangguh, dengan segala keterbatasannya, ia mampu bangkit menjadi sosok tangguh yang tak gentar dengan keterbatasan yang ia miliki sehingga mampu mengatasi kelemahannya. Taha Husain termasuk model manusia pekerja keras ia banyak membaca buku, ia juga banyak menulis buku. Dalam tema sastra ia menulis buku  Fi al adab al Jahili (1925) yang menjadi kehebohan. Dalam buku ini, beliau berpendapat bahwa sebagian besar sastra Arab jahiliyah sebenarnya bukanlah sastra arab jahiliyah, melainkan karangan – karangan yang timbul di zaman sesudah Islam dan hanya sebagian dari sastra jahiliyah itu yang benar-benar otentik.

Pendapat beliau ini mengudang kecaman banyak orang, ide itu diangap menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliyah yang kalau diterapkan pada hal – hal yang langsung bersangkutan dengan agama akan merusak keyakinan orang terhadap Islam. Taha Husain juga dituduh sudah keluar dari Islam bahkan kalangan –kalangan di Universitas Kairo menuntut agar Taha dikeluarkan dan untuk mengatasi kehebohan yang ditimbulkan akhirnya buku tersebut disita, dan ia dihadapkan ke pengadilan, namun perkaranya di deep

Buku lainnya berjudul al Fitnah al Kubra. Buku ini lebihtepat disebut buku sejarah politik dan kekuasaan Islam pasca Nabi, isinya merekam berbagai konflik kekuasaan Islam yang diwarnai banyak pertumpahan darah sejak terbunuhnya Umar bin Khatab hingga gugurnya Hesein bin Ali. Masih banyak lagi buku-buku yang ditulis oleh Taha, Pierre Cachia mencatat ada sekitar 33 karangan yang telah dihasilkan Taha (Pierre Cachia, Taha Husain His Place in the Egyptian Literary Renaissance, London : 1956)

Pemikiran Taha Husain

Ide Sekularisasi – Taha Husain berpendapat bahwa dunia barat maju karena mereka telah sanggup melepaskan peradaban dari agama mereka. Sekularisasi diartikan pula proses penduniawian, yaitu proses melepaskan hidup duniawi dari kontrol agama (Harun Nasution, 1996 : 188). Sekularisasi dalam pandangan Taha Husain adalah sekularisasi yang berbeda dengan yang ada di barat, baik dari titik tolaknya maupun hasilnya. Sekularisasi dalam gagasan Toha Husain bertitik tolak dari melepaskan ummat dari ikatan tradisi termasuk ajaran agama yang merupakan pemahaman para pendahulu terhadap nash nash yang Zanni dan berakhir kembali kepada Al Qur’an dan Hadist. Sedangkan sekularisasi yang terjadi di barat bertitik tolak dari pemisahan dunia termasuk politik dari agama dan sebagai akhir dari sekularisasi di barat adalah terlepasnya ilmu dari gereja.

Tentang sekularisasi, Taha Husain tampaknya tidak bermaksud menerapkan paham sekularisme sebab pada kenyataannya sekularisasi tidaklah sama dengan sekularisme. Mengutip pendapat Niyazi Berkez, “Sekularisasi, adalah sebuah proses sosiologis yang terjadi sebagai hasil dari beberapa faktor di luar kontrol seseorang”. Sekularisme, “Suatu paham yang melibatkan pemikiran seseorang kepercayaan atau kepentingan.

DARUSSALAM

14364866_861732127261576_7497222376204472442_n

Inilah gontor,,, pondok anti politik, pondok bernuansa surgawi,,, surga satu menara,,,
Ketika mereka mendambakan dunia, kami mendambakan surga
Surga yang damai, di tengah polemik yang ramai
Surga yang tenang, di tengah politik yang mengguncang
Surga yang indah, di tengah alam yang tertatah
Surga yang teduh, di tengah jiwa yang runtuh
Surga yang kokoh, di tengah nilai yang roboh
Surga yang nyaman, ditengah hidup yang rawan

Itulah kenapa trimurti pendiri pondok memberi nama darussalam yang artinya kampung damai,,,

My Destiny

Ketika lembaga Taman Pendidikan Alqur’an yang didirikan tahun 1994 oleh inisiatif Erna Kartini yang sebelumnya telah mengikuti penataran di Pondok Dipokerti Coper Jetis Ponorogo pada tahun 1993 dengan santri SD yang berjumlah kurang lebih 100 di beberapa tempat.Dengan sarana prasarana yang terbatas, dan kondisi masjid  yang dibangun pada tahun 1979 ini sangat memprihatinkan,

Pada tahun 2006, Erna bertemu dengan salah satu pengurus LKP2 saat itu, akhirnya bekerja sama dengan salah satu lembaga TPA yang telah bergabung terlebih dahulu.Seiring berjalannya waktu, LKP2 mengadakan pembinaan rutin setiap jum’at pahing dirumah bapak Pembina DR.KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA dan pada suatu hari kami meminta bantuan kepada ibu Hj. Indra Sudarsi dikarenakan kondisi masjid yang telah memprihatinkan serta keadaan ekonomi yang sulit dan akhirnya dibantu oleh bpk mujianto salah satu pengurus LKP2 yang kebetulan adalah perantara penyalur dana pembangunan masjid dari Kuwait.

Pada tahun 2007, pembangunan masjid dilaksanakan dengan lancar.dan pada tahun itu pula terjadi penurunan proses mengajar dikarenakan pembangunan masjid,menjadikan santri  TPA berkurang,keadaan tersebut disampaikan kepada Hj. Indra sudarsi dan pada tahun 2008,beliau memberikan amanah untuk mendirikan Pesantren Anak Sholeh pendidikan usia dini dari 2 tahun sampai 6 tahun.Atas bimbingan dan arahan beliau,dengan jumlah santri yang berjumlah sedikit dan kondisi ekonomi yang tidak baik,lembaga pendidikan Pesantren Anak Sholeh belum memberikan beban untuk membayar apapun.karena ini adalah  langkah awal hingga lembaga pun harus menyediakan makanan untuk para santri.

Tahun demi tahun,proses pembelajaran mengalami peningkatan.begitu pula santri pun bertambah.Saat Hj. Indra Sudarsi pergi untuk Umroh,beliau menyarankan agar lembaga pendidikan Pesantren Anak Sholeh di pucuk gunung ini diberi nama Annuur dengan harapan agar  bersinar seperti jabal Nur di Mekah. Akhirnya pada tanggal 5 Juni 2008  Pesantren Anak Sholeh An-nuur didirikan secara resmi di Dkh Puthuk,Selur,Ngrayun,Ponorogo.

 

UNTUK KEDEPANNYA SEPENUHNYA DISERAHKAN KEPADA SEORANG ANAK KECIL 18 TAHUN YANG KINI MASIH DALAM PROSES PENCARIAN JATI DIRI,YANG BEGITU MEMBUTUHKAN WAKTU YANG LAMA.IA MASIH MERABA,IA MASIH KAKU UNTUK HAL INI,IA MASIH INGIN BERSENANG-SENANG MENIKMATI MASA MUDANYA.TAPI TUNTUTAN DAN BEBAN DARI SETIAP SUDUT MEMBUAT PERKEMBANGANNYA BERBEDA DENGAN YANG LAIN.           

LALU AKANKAH SANG ANAK MAMPU UNTUK MENERUSKAN PERJUANGAN SANG IBUNDA?ATAU AKANKAH IA HANYA AKAN  MENYIA-NYIAKAN SELURUH WAKTU YANG IA MILIKI UNTUK HAL YANG TIDAK BERGUNA?SEMUA TERGANTUNG KEPADA ANAK INI.