RASA

“Menunggu adalah seni yang tertunda.
Sadarilah bahwa engkau adalah wanita yang hebat,kesendirian bukanlah penentu engkau tidak dapat memilikinya,
Lupakan semua perkataan mereka yang menganggapmu telah melewatkan kenikmatan dunia,
Engkau berhak bahagia dengan caramu sendiri.Pertahankanlah prinsipmu yang telah terbingkai dengan kokoh,tentang tidak memulai hubungan yang tidak halal,Tinggalkan atau ridho dariNya akan meninggalkanmu
Sulit , memang, karena surga bukanlah murah”
-Panji Ramdana-

“Assalamualaikum Zahra,!”sapa seseorang yang membuyarkan lamunanku.
“Wa’alaikumsalam Anisa…” jawabku dengan senyum hangatku.”Ayo ke kelas”ajakku kemudian sambil menggandeng tangannya.
Aku Zahra Arrahma seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dengan beasiswa yang kudapat dari pemerintah desa, aku mampu meneruskan sekolahku ke jenjang berikutnya.Aku juga seorang kasir di sebuah toko besar di dekat kampus,dengan kerja part time itulah aku mampu membayar kosan yang kutinggali.Dan dia adalah Annisa, malaikat yang kutemui di awal masukku di kampus ini, dia satu kelas denganku, ia dan keluarganya bagai malaikat bagi kehidupanku, bagai bintang yang selalu menyinari gelapnya malamku.Selalu ada dalam suka maupun duka.Selalu hadir disaat aku membutuhkan mereka.Dan kuanggap sebagai keluarga kandungku sendiri.
Aku selalu terbuka dengan Annisa dalam segala keluh kesah yang kurasakan, aku selalu menceritakan apapun yang telah aku lakukan.Tapi satu hal yang belum pernah aku lontarkan padanya.Hanya hatiku dan Allah yang tau.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”Salam seorang dosen pada jam perkuliahanku saat ini.Ia menyampaikan materinya dengan tegas dan lugas, dan tak hayal jika banyak mahasiswi yang mengaguminya, serta antusias dalam menerima materi kuliah yang ia sampaikan.Ia termasuk salah satu dosen yang paling muda di kelasku.Ia memang sangat genius dan sering meraih prestasi dalam bidang Ekonomi.
Begitu pula dengan diriku, dialah motivasiku selama ini, entah gejolak apa yang kurasakan, entah semilir angin apa yang kubiarkan berhembus ke dalam sela-sela hatiku.Ia terlalu sempurna sehingga anganku tak mampu lagi untuk jauh bermimpi.Ia terlalu hebat sehingga langkahku selalu tertinggal, dan aku hanya mampu menatapnya dari belakang,Ia terlalu jauh, untuk itu aku hanya diam, hanya mengatakan beban dan harap dalam goresan kepalaku.Berharap akannya.dan itulah hal yang tak mampu aku ungkapkan pada Anisa.
Setelah perkuliahanku selesai aku mengutarakan keinginanku kepada Anisa,
”Nisa,liburan akhir semester 7 nanti aku ingin berlibur dirumahmu.Membantu keluargamu,aku sudah meminta izin pada nenekku dan diperbolehkan.Keluargamu sudah seperti keluargaku sendiri sa,dan kebetulan pemilik toko yang mempekerjakanku memberi izin untuk liburan,sepertinya beliau kasian padaku karena tidak pernah liburan,”Ujarku pada Anisa.
Aku memang selalu cerewet padanya, apapun yang telah aku lakukan aku menceritakannya.Dan aku memang sudah tak sabar ingin menjadi Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, Skripsiku memang masih 20% dari target, tapi aku tetap berusaha untuk menyelesaikannya tepat waktu.
“Iya Zahra!, itu ide bagus, aku akan merasa senang jika kau akan liburan dirumahku, aku akan punya teman.Karena kau tau sendiri aku tidak pernah keluar rumah.Kamu juga sudah aku anggap sebagai adikku sendiri”ujarnya dengan gelak tawanya.Ia selalu terlihat bahagia, dia sosok yang lembut,penurut, karena ia tidak pernah diperbolehkan keluar dari rumah kecuali hal yang memang sangat mendesak.Aku berbincang-bincang dengannya.Gelak tawa kami, canda kami, dan aku benar-benar tidak ingin kehilangan malaikatku seseorang yang sudah kuanggap kakakku sendiri.
Liburan telah tiba, sesuai janjiku aku akan mengabiskan 2 minggu liburanku dirumah Annisa.Aku membantu semua pekerjaannya yang bisa kubantu.Membuat kue untuk dijual, membersihkan rumah,memasak dan pekerjaan rumah lainnya.Aku bahagia, karena aku tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini.Ayah dan ibuku telah meninggalkanku saat aku berumur lima tahun.Aku juga tak ingat jelas kejadian itu.Yang aku ingat, aku menangis diatas tubuh Ayah dan Ibu.Semenjak itu aku tinggal bersama nenek, dia sosok yang kuat, menyekolahkanku hingga aku mampu meraih beasiswa ini.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”Salam seseorang dari luar.Aku bergegas membukakan pintu.Aku terkejut melihat sosok yang datang.Sepertinya jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.Aku berada didepannya sedekat ini.Sehingga aku tak mampu menjawab salamnya.Aku tak mampu berkata-kata.
“Assalamualaikum”Salamnya yang membuyarkan lamunanku kemudian.
“Wa’a_ laikum_ salam”Jawabku terbata-bata.
Ialah Fathurrohman, dosen yang menjadi motivatorku selama ini, yang membuat semilir angin berhembus memasuki sela-sela hatiku, yang menciptakan gejolak dalam hatiku.Yang selama ini hanya mampu kulihat dan kuharapkan dalam doaku.
“Ibu Anisa ada?”tanyanya kemudian.”Ada Pak, Silahkan masuk”ujarku sambil mempersilahkannya masuk dan membuyarkan fikiranku sendiri.Ternyata ia tidak sendiri, ia membawa rombongan yang sepertinya adalah keluarganya.Aku bergegas memanggil Annisa dan ibunya di belakang.
.”Ibu dan Annisa mempersiapkan diri saja, biar aku yang menyiapkan hidangannya”Ucapku kemudian.Sepertinya ibu dan Anisa terkejut dengan kedatangan keluarga Pak Fathurrohman.
“Kedatangan kami kemari, atas nama Keluarga Fathurrohman ingin meminang Anisa Miftahurohmah untk menjadi Penyempurna agamanya.Dan sebenarnya Fathurrohman ini sudah menyukai Anisa sejak awal berjumpa di kampus.Hanya saja ia menunggu waktu yang tepat seperti sekarang ini.”ujar ayah Pak Fathurrohman.Aku mendengarnya saat tengah menyiapkan minum.
Aku bergegas pergi meninggalkan ruang tamu.Menutup telinga dan hatiku agar tidak mendengarkan percakapan disana.Rasanya jantungku berhenti berdetak.Nafasku berhenti.Aku tersengal.Air mataku tumpah membasahi pipi,Entah bagaimana perasaanku saat ini, aku tak mengerti.Rasanya dadaku sakit.Aku menangis tanpa suara.Nafasku berhembus tak beraturan.Aku benar-benar merasa sangat terpuruk.Sosok yang kuharapkan dalam do’aku, dalam setiap anganku,kini benar-benar mustahil untuk menjadi nyata.Aku tak mengerti mengapa aku telah membiarkan hembusan angin itu hinggap dan tumbuh dalam hatiku.Seharusnya kubiarkan ia pergi jauh.
“Zahra!”teriak Annisa dan langsung memelukku, menumpahkan kebahagiaannya padaku.Aku seharusnya ikut bahagia.Tapi mengapa aku merasakan sakit yang luar biasa dalam hatiku.Kubiarkan ia menumpahkan kebahagiaannya padaku.”Selamat Annisa” ujarku padanya.Dengan sekuat tenaga aku menahannya tanpa membuat siapapun curiga.
“Kau tau Zahra, Ternyata ia menyukaiku sejak lama.Sejak awal kami bertemu di perpustakaan Ra,dan saat itu juga aku mengaguminya.Tapi maaf aku malu mengungkapkannya padamu”ceritanya dan memelukku lagi.Aku harus bahagia melihat malaikatku bahagia.
Entah mengapa semenjak kejadianku itu aku lebih banyak murung.Daripada bersama Annisa,aku lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dengan alasan menyelesaikan skripsiku.Karena,jika bersamanya itu akan membuat rasa sakit itu muncul kembali.Dan sampai saat ini skripsiku tak kunjung bertambah satu halaman pun.
“Meski sekarang kau tak tau langkah mana yang harus kau langkakan,tetap langkahkanlah,
Yang perlu kamu tahu, telah ada seseorang yang menunggumu dan memantaskan diri untukmu
Jika kau Tanya mengapa ia memilihmu, karena Allah telah memberikan cintanya yang tertuju padamu,
Jodoh itu rahasia Allah, sehebat apa kita setia,selama apa kita menunggu, sekeras apa kita bersabar,Semua telah ditetapkanNya”
Tulisan dalam sebuah buku itu menyadarkanku akan sesuatu.Akan rasa yang kusimpan saat ini.Rasa itu memang sebuah fitrah yang diciptakan oleh Allah.Akan tetapi manusia diberi kesempatan untuk mengolah rasa itu sendiri.Akan diarahkan kemana rasa itu?apakah kepada seorang yang tepat?atau kepada siapa?.Dan Allah telah menjawab doaku selama ini.Aku tidak menyesal membiarkan rasa itu tumbuh, karena dengan begitu aku mengerti,aku sadar dan paham bahwa rasa itu harus diperuntukkan kepada sosok yang tepat,sosok yang telah ditetapkan Allah di masa depanku nanti.
“Zahra, kau masih sibuk di perpustkaan?”Tanya Anisa yang mendatangiku ke perpustakaan.
“Iya Anisa, kau duluan saja oke!”jawabku kemudian sambil memainkan mata kiriku.Ia hanya tersenyum dan meninggalkanku.Walau terlihat pancaran kekhawatiran di wajahnya.Aku akan tetap seperti ini hingga tiba waktu yang tepat.
Maafkan aku Annisa, akan tetapi aku berjanji suatu saat nanti aku akan menceritakan semua ini padamu.Disaat rasa ini telah benar-benar mati dan tak berbekas setitik pun.Setidaknya aku berharap kau jangan menyadari apa yang terjadi padaku.Karena kini aku sudah bahagia disaat kalian bahagia.Karena kalian adalah malaikatku.
Terimakasih Allah, kau obati semua rasa sakitku tanpa harus mendemdam, engkau basuh semua lukaku tanpa harus melupakan.Dan aku sadar semua itu karenaMu, andaikan ia mencintaiku, itupun karenaMu, karena rasa cinta memanglah dariMu.
-SELESAI-

Iklan

TAZKIYAH AN-NAFS Oleh:Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Salah satu misi mengapa Allah mengutus para Rasul adalah untuk pensucian diri atau “tazkiyatunnafs” (QS. Al-Jum’ah 2). Mengapa diri manusia harus disucikan? Alasannya sesuai dengan watak jiwa manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Namun manusia diberi potensi untuk berbuat kebaikan (taqwa) dan kejahatan (fujur) ” (QS. Al-Shams 7-8). Maka dari itu manusia tidak luput dari berbuat salah dan dosa, sekecil apapun. Itu semua bisa terjadi ribuan kali dalam sehari semalam.

Tapi seorang Muslim tidak perlu khawatir. Islam memberi jalan atau cara atau alat untuk menghapus dosa-dosa kecil itu. Jalan atau cara penghapusan dosa-dosa itu adalah syariah. Syariah dalam arti luas mengandung aqidah, hukum-hukum, akhlaq dsb.

Maka dari itu para ulama sepakat bahwa “Setiap syariat Islam memiliki tujuan dan mengandung maslahat”. Tujuannya beribadah kepada Allah dan maslahatnya adalah kembali kepada kepentingan jiwa manusia.

Syariat Islam yang utama memiliki lima rukun. Hikmah dari perintah menjalankan rukun Islam yang lima itu ternyata adalah pensucian diri. Diri yangt suci adalah yang bebas dari dosa-dosa. Orang yang berkata “La ilaha illallah” akan dihapus dosa-dosanya. Syariat shalat lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, zakat dan haji adalah alat penghapus dosa-dosa alias alat pensucian diri.

Shalat adalah ibarat kerja bersih-bersih yang rutin setiap hari. Sebab seperti rumah, kamar atau kantor dsb., jika lama tidak dibersihkan tentu akan banyak debu dan kotoran. Jiwa manusia Maka yang selalu menimbun kotoran dosa-dosa kecil perlu dibersihkan setiap hari, dan itulah fungsi shalat. Nabi bersabda:”sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air sungai menghilangkan kotoran dalam tubuh kalian” (al-hadith)

Shalat adalah juga merupakan proses untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Maka siapapun yang selalu bersuci dan mendekatkan diri pada Yang Maha Suci Allah maka jiwanya akan menjadi bersih. Jiwa yang bersih akan menghasilkan perbuatan yang baik. Maka shalat pun menjadi standar amal seseorang.

“…..Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya, namun jika rusak shalatnya maka rusak pulalah seluruh amalnya. (H.R. Tabrani)

Begitulah, berislam dengan melakukan shalat adalah pensucian diri. Namun jika shalat lima waktu tidak cukup efektif menghapus dosa-dosa seseorang dalam sehari semalam, maka Allah memberi alat satu lagi yaitu shalat Jum’at sebagai menghapus dosa-dosa selama seminggu. Namun jika shalat Jum’at juga tidak efektif, karena keteledoran manusia pula, sehingga dosa-dosa kecil itu berakumulasi dalam masa satu tahun menjadi jutaan jumlahnya, Islam masih memberi jalan lain yaitu dengan berpuasa. Dalam hadith Nabi diterangkan

Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa kecil (yang terjadi) diantara waktu-waktu itu selama tidak melakukan dosa-dosa besar. (HR. Muslim)

Puasa juga dapat disebut sebagai pembersih diri atau zakat diri. Jika harta seseorang yang mencapai nisab wajib dizakati, maka badan manusia juga perlu dizakati. Ini dengan secara gamblang disampaikan oleh Nabi:

Segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakat badan itu adalah puasa, dan puasa asalah separoh dari kesabaran (HR.Bukhari)

Dengan berpuasa seorang Muslim sedang mengosongkan dirinya dari kecenderungan fisik manusia yang umumnya didominasi oleh nafsu hewani (nafsu-l-ammarah bissu’). Dengan memberhentikan makan dan minum dalam sehari maka kekuatan fisiknya akan melemah dan diikuti oleh melemahnya dorongan jiwa hewani tersebut. Ketika jiwa hewani melemah maka jiwa yang tenang (nafs al-mutma’innah) akan menguat dan dominan. Dalam teori al-Ghazzali ketika dorongan fisik seseorang dipenuhi oleh nafsu hewani diganti atau dikuasai oleh akalnya atau oleh jiwanya yang tenang, maka manusia akan melakukan tindakan-tindakan yang positif.

Meski pembersihan badan berdampak pada jiwa manusia, puasa ternyata bukan pembersihan badan saja. Berpuasa tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan minum di siang hari.Puasa juga puasa batin. Puasa batin adalah puasa mulut dari perkataan kotor, puasa mata dari melihat sesuatu yang haram, puasa hati dengan menahan diri dari rasa marah, dari nafsu syahwat, puasa telinga dengan menahan diri dari mendengar sesuatu yang diharamkan dan lain sebagainya. Jadi karena jiwa dan raga manusia itu saling berhubungan maka kesucian jasmani harus disertai kesucian rohani. Dosa-dosa jasmani harus disucikan secara serentak dengan dosa-dosa rohani.

Orang yang berpuasa tapi “tidak bisa meninggalkan diri dari ucapan palsu (jelek) dan tetap mengerjakannya, maka puasanya itu tidak berguna bagi Allah” (HR Bukhari – Muslim). Itulah sebabnya sejak awal Nabi telah mewanti-wanti “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala kecuali lapar, dan banyak orang yang shalat (malam) tidak mendapat pahalanya kecuali berjaga” (HR Al Hakim).

Meskipun jiwa manusia disucikan dengan shalat dan puasa, namun Islam masih menyediakan alat pensucian lagi yaitu zakat, infaq dan shadaqah. Zakat adalah pensucian diri manusia melalui harta bendanya. Meski tidak berkatian langsung dengan jiwa manusia, namun tanggung jawab dan keikhlasan memberi atau mengeluarkan zakat itu sungguh berpengaruh pada jiwa pemberinya.

Hadith-hadith Nabi jelas-jelas menyatakan bawha shadaqah ternyata juga pemadam api kekhilafan dan dosa manusia sebagaimana air mematikan api. Dan terakhir adalah haji. Di dalam penjelasan Nabi pula haji mabrur berfungsi seabgai penghapus dosa-dosa. Saking bersihnya dosa-dosa yang berhaji mabrur itu maka jiwanya sama seperti hari diwaktu ia dilahirkan .

Begitulah, berislam dengan menjalankan syariatnya bermuara pada tazkiyatunnafsi (pensucian diri). Dengan dosa yang terhapus jiwa menjadi jernih, hati menjadi tenang, kesulitan hidup menjadi kemudahan, pikiran menjadi positif. Al-Qur’an memberi kabar baik “Beruntunglah orang yang membersihkan diri dan mengingat asma Tuhannya dan shalat. (QS al-A’la 14-15). Dan Nabi mengajari kita doa “Ya Allah berilah aku rezeki hati yang bersih, dan lidah yang jujur”.

K-POP Penggerus Nasionalisme

Gelombang Korea atau Korean Wave atau Demam Korea atau yang biasa dikenal dengan K-pop yang tengah marak dan masuk ke bangsa bangsa lain.Pengertian tersebut tidaklah asing kita dengar karena media massa di seluruh dunia tengah memperhatikan dan fenomena ini dan bahkan tanpa sadar mengkonsumsinya.Terlebih setelah masuknya music K-Pop ke Indonesia membuat pergeseran pada musik dangdut, melayu ala Indonesia.Dan bahkan tak heran jika banyak Boyband Girlband Indonesia yang dikemas mirip dengan Boyband dan Girlband di Korea.Seperti SMASH, Cherrybelle dan lain sebagainya.
Virus Korea ini sudah masuk kedalam jiwa remaja sejak beberapa tahun terakhir.Hal ini tentu saja mendorong jiwa fanatisme pada tokoh idola yang dijadikan kiblat dan ditiru dari segala sisi.Seorang remaja yang tengah mengidolakan seorang tokoh ia akan menirukan segala hal yang berhubungan dengan tokoh tersebut.Karena remaja adalah sosok yang masih labil.Sosok yang masih belum mampu untuk menguasai dirinya.
Fenomena ini juga menimbulkan efek yang sangat luar biasa yang kian menjalar dan mengikis minat untuk mempelajari budaya sendiri.Di Indonesia saja sudah banyak peningkatan minat untuk mempelajari budaya Korea dari Bahasa, makanan, bahkan busana pun ikut dicari dan ditiru tentu saja hal ini perlahan akan menggerus rasa nasionalisme para remaja Indonesia.
Jika awalnya banyak yang hanya mengaku menyukai lagu dan drama saja tapi lama kelamaan banyak yang sudah mulai berbicara dengan bahasa dasar Korea seperti, Omo dan lain sebagainya.Setelah memahami bahasa,maka akan mempelajari budaya, dari fashion, menu masakan dan lain sebagainya.
Dengan fenomena ini sudah dapat dibayangkan bagaimana para remaja yang lebih memuja bangsa lain daripada bangsanya sendiri.Dimana akan lahir fanatisme yang akan menyebabkan para remaja melupakan tanah airnya.Melupakan agama dan kebudayaannya, dimana para remaja akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, lebih banyak mengakses internet untuk mengetahui perkembangan sang idola.Dimana mereka akan menghabiskan uang tabungan hanya untuk menonton Konser.Akan banyak remaja yang membela bangsa Korea daripada bangsanya sendiri.Akan banyak remaja yang ikut menginjak bangsanya disaat bangsanya diinjak.Dan bahkan mereka akan membandingkan bangsanya dengan Korea serta menjunjung tinggi Korea lebih dari bangsanya sendiri.
Dengan masuknya K-Pop yang tak mampu terusir dari berbagai bangsa,karena inilah salah satu kesuksesan pemerintah Korea untuk menjajah bangsa lain.Oleh karena itu, tugas Indonesia saat ini adalah menanamkan karakter dan rasa nasionalisme pada setiap remaja agar tidak terjerumus untuk mencintai bangsa lain lebih dari cintanya pada bangsanya sendiri.

Wanita Adalah Sosok Yang Mulia

Gerakan Femininsme atau gerakan yang menuntut kesetaraan hak antara Laki-laki dan wanita sedang marak dibicarakan.Gerakan ini sebenarnya bermula dari sejarah barat karena pada saat itu barat sangat menindas wanita dengan semena-mena.Gerakan ini adalah Sebuah kelompok wanita yang meminta haknya disamakan dengan Laki-laki dalam segala hal.Politik, masayarakat bahkan rumah tangga sekalipun.Mereka meminta bahwa seorang laki-laki harus mampu hidup di dapur juga.
Gerakan ini disebabkan oleh pemikiran kaum perempuan yang merasa dirinya ditindas, tidak diberi hak dalam berkakrir,dan hanya hidup dilingkungan dapur.Mereka merasa memiliki keterbatasan dalam bergerak, berpendidikan tinggi.Karena mereka berfikir untuk apa berpendidikan tinggi toh juga nanti larinya ke dapur!.
Femomena ini begitu meresahkan bagi kaum laki-laki, karena pada hakikatnya merekalah yang sebenarnya ditakdirkan sebagai pemimpin.Yang lebih disayangkan, Jika yang berada dalam kelompok penuntut ini adalah para Muslimah, seseorang yang seharusnya paham akan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh sang pencipta.
Manusia adalah wakil Tuhan di dunia, manusia diciptakan oleh Tuhan dan manusia juga tidak akan pernah bisa hidup tanpa Tuhan.Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia menaati segala perintah yang telah ditetapkan Tuhan.
Allah Berfirman dalam Surat An-Nisa’ Ayat : 34
“Kaum Laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebahagian mereka (Laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.Sebab itu maka wanita Sholeh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”
Dalam Firman tersebut sudah tertera jelas bahwa seorang laki-laki memang telah ditakdirkan sebagai pemimpin.Allah memang telah menjadikan laki-laki lebih dibandingkan dengan perempuan.Akan tetapi, sebenarnya banyak laki-laki yang merasa iri dengan wanita.Mengapa?
Karena wanita lebih memiliki kelebihan dibandingkan kaum laki-laki.Seorang wanita mampu menjadi sandaran yang kokoh bagi suami dan anak-anaknya,seorang wanita akan hamil, menyusui, menimang anak.Lalu kenapa laki-laki tidak? Itulah yang telah ditetapkan oleh Allah, wanita lebih mulia derajatnya dibandingkan kaum laki-laki.Jika yang disebutkan dalam banyak hadits bahwa surga dibawah telapak kaki ibu.Dan banyak riwayat yang menyebutkan tentang kemuliaan seorang wanita.Karena wanita adalah sosok yang mulia.

Kartu Kuning Jokowi

Kartu kuning Jokowi saat ini tengah marak dibicarakan, Seorang Ketua BEM UI mengacungkan kartu kuning kepada Pak Presiden Joko Widodo, sebagai tanda sebuah peringatan kepada pak presiden bahwasanya banyak janji-janji preseiden yang belum dilaksanakan.Pro kontra terjadi di berbagai kalangan.
Mahasiswa adalah sosok yang kritikus.Tidak banyak bisa menerima banyak hal yang dianggap tidak sesuai.Tapi Politik bukanlah hal yang dapat diketahui oleh banyak orang sebelum duduk di tempat itu sendiri, apalagi mahasiswa, bukan waktu kita untuk menyuarakan sesuatu yang belum pasti, Mahasiswa adalah masa dimana kita harus mampu berkiprah di masa depan dan dapat menjadi generasi yang mampu membenarkan sesuatu yang salah.
Seorang mahasiswa harus mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk.Mana yang patut ditiru dan ditinggalkan .Mengacungkan kartu kuning memang bisa dikatakan tidak sopan, karena Pak Jokowi sebagaimanapun belliau, beliau tetaplah orang tua yang harus dihormati.
Mari kita cukupkan aksi-aksi yang kurang bermanfaat , mari kita belajar, mari kita berkiprah di kalangan kita saat ini agar dapat menjadi generasi generasi Tangguh masa depan.
HIDUP GENERASI MUDA MASA DEPAN!

Pemikiran Bangsa Eropa pada Abad Pertengahan

Hal ini terjadi sejak kaisr Justianus mengeluarkan undang-undang yang melarang ajaran filsafat. Dengan tujuan tidak lain untuk melindungi ajaran Kristen. Dengan ditutupnya ajaran filsafat, kebebasan berfikir dan pengembangan pengetahuan objek dilarang. Jadi, filsafat di barat hanya dijadikan alat untuk melegitimasi agama kristen.
Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Maka kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran merekapun ditolak, dan timbul ancaman, siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. Contohnya, pembunuhan Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya.
Pada abad ini pejabat gereja menempatkan kosmologi Abad Pertengahan bersumber pada kosmologi Abad Pertengahan yang bersumber pada kebenaran Injil. Artinya segala hasil pemikiran adalah kebenaran Injil. Artinya segala hasil pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan harus bersumber pada gereja. Kekuasaan gereja begitu dominan dan sangat menentukan kehidupan Eropa. Gereja tidak memberikan kebebasan berpikir menyebabkan kemunduran iptek. Sisi negatif dari dominasi gereja yakni dari bidang sosial akan timbul golongan penguasa, golongan menengah dan golongan kelas buruh, petani. Golongan penguasa akan menjadi penguasa sehingga menimbulkan ketimpangan yang mengancam stabilitas sosial. Dari segi agama, beredar paham yang melenceng dari ajaran Kristen dengan timbulnya paham pengampunan dosa. Segi arus pemikiran terbatas pada gereja.
Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang layak untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains asa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka ditolak. siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera malah ada yang dibunuh.
Kendati demikian, di balik doktrin gereja, kebesasan berfikir dengan berbasis agama kristen juga sangat tampak. Hal ini terlihat dari perbedaan pemikiran para filsuf kristen yang mengakibatkan munculnya beberapa aliran dalam ajaran kristen. Bahkan, ada beberapa pemikir yang berani berkonfrontasi dengan mereka yang memilki otoritas menjaga kemurnian agama kristen. Karena itulah, abad pertengahan ini tidak sepenuhnya gelap. Bahkan, di akhir masanya menjadi benih-benih yang akan melahirkan zaman baru yang amat dirindukan, yaitu, zaman modern.
Kemudian, pada zaman ini dibagi menjadi dua zaman, yaitu zaman patristik dan zaman skolastik. Zaman patristik dicirikan dengan usaha para pelindung gereja dengan cara mengkristenkan filsafat yunani yang dianggap berbahaya jika tidak dikristenkan. Sedangkan skolastik, yaitu sekolah yang berdiri untuk mempelajari filsafat. Pada zaman ini, kebudayaan islam yang telah maju samapai kedaratan kristen, dan sangat berpengaruh terhadap pemikiran para filsuf.
Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan dan tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah menginterogasi ideologi para ilmuan dan menyeret mereka ke pengadilan serta menganggap kegiatan ilmiah sebagai campurtangan setan, kemudian faktor-faktor lain yang berada di luar pembahasan ini telah menjadi latar belakang munculnya Renaisans yang telah melahirkan teriakan protes terhadap kondisi yang dominan pada abad pertengahan.

LIBERALISME

Liberalisme adalah salah satu jenis paham atau ideologi yang mengutamakan kebebasan atau kemerdaan individu dalam segala hal, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, agama, dan lainnya. Paham Liberalisme merupakan paham yang menolak segala bentuk pembatasan terhadap suatu individu. Menurut paham ini, masyarakat dan negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasan individu, karena masyarakat dan negara juga terbentuk karena adanya individu. Dalam masyarakat modern saat ini, liberalisme biasanya dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, karena keduanya memegang kuat konsep kebebasan. Orang-orang yang menganut paham ini disebut leberalis. Walaupun kebebasan individu ini tidak ada pembatasnya, tetapi bukan berarti kebebasan ini adalah kebebasan yang mutlak, karena kebebasan tersebut harus bisadipertanggungjawabkan. Jadi tetap ada keteraturan dalam ideologi ini, dengan kata lain, bebas bukan yang sebebas-bebasnya.
SEJARAH LIBERALISME
Meskipun ada banyak informasi berbeda tentang awal mula lahirnya liberalisme, tetapi kebanyakan sejarawan biasanya akan merujuk pada peristiwa revolusi Perancis abad ke 18. Pada masa ini terjadi protes terhadap kepincangan sistem yang telah berakar kuat di Perancis. Sebagai warisan sejarah, saat itu di Perancis terdapat pemisahan golongan, ada golongan berhak istimewa dan golongan tanpa hak. Golongan pertama menguasai segalanya, mereka terdiri dari keluarga kerajaan, dan pemuka agama. Golongan kedua tidak memiliki hak apapun, mereka adalah rakyat prancis (baik yang kaya maupun yang miskin). Golongan tanpa hak ini, baik dia rakyat kaya atau miskin, mereka harus patuh pada golongan dengan hak istimiwa.
Karena dinilai terlalu banyak ikut campur dalam bidang ekonomi, sosial, agama, dan politik. Maka golongan tanpa hak menuntuk kemerdekaan dan memperjuangkan kebebasan mereka. Pada tahun 1789 merupakan puncak Revolusi Perancis, orang-orang yang mengadakan revolusi ini kemudian disebut dengan golongan liberal. Gerakan mewujudkan liberalisme membutuhkan waktu yang panjang dan lama, Perancis sendiri baru benar-benar dapat melaksanakan liberalisme pada tahun 1870. Kemudian setelah itu Liberalisme menyebar luas ke negara Eropa lainnya.

Beberapa faktor yang mendukung penyebaran Liberalisme di Eropa antara lain adalah :
1. Trauma Sejarah
Dominasi agama kristen pada abad pertengahan membuat peradaban barat mengalami masa pahit yang disebut dengan “Zaman Kegelapan”. Pada masa kekuasaan kristen ini masyarakat mengalami tindakan brutal yang sangat tidak manusiawi.

2. Permasalahan dalam Teks Bible (injil)
Ada dua masalah terhadap keberadaan bible (injil) pada masa itu :

Tidak terdapat dokumen bible yang original
Bahan yang ada bermacam-macam, berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

3. Problem Teologi Kristaen
Teologi kristen dimata Tuhan itu 1 dalam 3, 3 dalam 1 sulit diterima oleh logika masyarakat saat itu. Dari latar belakang seperti itu maka kemudian masyarakat barat cenderung beragama tanpa berkeyakinan. Oleh karena itu mereka mulai memisahkan antara agama dengan negara dan mulai menerima konsep liberalisme serta toleransi terhadap agama.

C. CIRI – CIRI DAN NILAI POKOK LIBERALISME
1. Kesempatan yang Sama (Hold The Basic Equality of All Human)
Setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama dalam segala bidang. Tetapi bukan berarti kesempatan yang sama ini juga akan memberikan hasil yang sama bagi setiap orang. Hasil yang akan didapatkan setiap orang berbeda-beda tergantung kepada sumber daya yang dimiliki, tenaga, kerja keras, dll. Terlepas dari itu, persamaan kesempatan merupakan hal yang mutlak dalam paham liberalisme.

2. Perlakuan yang Sama (Treat the Others Equally)
Karena mempunyai kesempatan yang sama, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi (dalam segala bidang), baik itu politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, atau kenegaraan, maka setiap orang akan mendapatkan perlakuan yang sama. Hal ini dilakukan dengan tujuan menghilangkan egoisme individu.

3. Pemerintahan ditentukan dengan Persetujuan dari yang Diperintah (Goverment by The Consent of The People)
Penentuan pihak-pihak yang memegang kekuasaan harus mendapat persetujuan dari rakyat yang akan diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi bertindak menurut kehendak rakyat.

4. Berjalannya Hukum (The Rule of Law)
Pada dasarnya, negara berfungsi untuk membela dan memakmurkan rakyat. Oleh karena itu dalam menjalankan sebuah negara, maka terdapat peraturan hukum yang dapat melindungi dan mempertahankan hak rakyatnya. Negara tersebut harus memiliki patokan hukum tertinggi, yang menghargai hak – hak kebebasan dan persamaan kedudukan. Dalam hal ini yang menjadi pusat perhatian adalah kepentingan individu.

5. Negara Hanyalah Alat (The State is Instrumen)
Negara merupakan suatu mekanisme yang digunakan untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih besar.

6. Liberalisme tidak menerima ajaran Dogmantisme (Refuse Dogmantisme)
Dogmantisme merupakan ideologi dimana orang-orang memiliki kepercayaan yang sangat teguh terhadap suatu hal dan menentang apapun yang tidak sesuai dengan kepercayaannya. Orang yang berpegang pada Dogmantisme ini memiliki kepercayaan yang sangat kuat dan tidak dapat dirubah, walaupun keberadaan tersebut tidak dapat disesuaikan dengan kenyataan, serta mereka tidak dapat menerima apabila ada pendapat yang berbeda dari orang lain.

Tuhan memang tak pernah menjanjikan untuk memberikan kemudahan setiap pekerjaan,
Tapi, Ia menjanjikan untuk selalu bersama kita pada setiap kesulitan sejauh kita menginginkan itu,

Jadi, jangan pernah berputus asa mari kita berdiri tegak menghadapi semua rintangan yang datang, setegak karang yang tetap kokoh meskipun dihempas ombak sedikitpun tak bergoyang.. Setelah sulit tentu mudah akan datang, maka ketika Ia menjelang tengadahkan tangan dan kita syukuri nikmat Tuhan… Karena dengan bersyukur kepadanyalah kita akan menemukan ketenangan….
@Rohmahakhirulmuharram

Estetika dan cara pandang Barat

Kebudayaan Barat masuk melalui seluruh aspek kehidupan manusia diseluruh dunia. Hal-hal yang berkembang di Barat, saat ini, menjadi panutan bagi seluruh umat manusia diseluruh dunia. Menurut pakar sosiologi Islam, Ibnu Khaldun , hal ini merupakan suatu keniscayaan di mana peradaban yang sedang menang, jaya, dan maju, akan selalu menjadi panutan bagi peradaban-peradaban lain yang kalah. Dalam arti lain, peradaban yang saat ini kalah, sedang berada dibawah, atau mengalami stagnasi bahkan kemunduran, pasti menjadi pihak yang mengekor kepada peradaban yang saat ini sedang jaya: peradaban Barat.
Salah satu yang mengalami perubahan adalah dalam aspek fashion. Cara berpakaian Barat yang saat ini ada, dianggap oleh Barat sendiri sebagai bentuk ‘perkembangan’. Gaya berdandan dan berpakaian yang mengikuti era modernisme dan postmodernisme secara cepat menyebar keseluruh penjuru dunia dengan image yang ‘cool’ dan ‘up to date’.
Umat Islam termasuk yang menjadi sasaran sekaligus di sisi lain sebagai penikmat fashion Barat. Mayoritas umat Islam yang tinggal di negara-negara Islam bukan hanya sudah lupa dengan kewajiban-kewajiban dalam menutup aurat sehingga kaidah-kaidah berpakaiannya jauh dari kaidah-kaidah berpakaian ala Islam, tapi lebih parah lagi, mereka menganggap fashion yang terbaik adalah apa yang sedang trend di Barat. Tingkat ketergantungan umat Islam melihat dunia fashion Barat sangat tinggi, hingga busana-busana Muslim dan Muslimah yang seharusnya lebih mengedepankan nilai-nilai syariat harus mengalami ‘akulturasi’ dengan gaya-gaya desain Barat.
Ketika berbicara tentang dunia fashion di Barat, maka pembahasannya akan masuk dalam ranah seni dan desain. Kehadirannya di Barat sangat terkait dengan berbagai permasalahan yang ada dalam masyarakat (konsumen) seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, seni, lingkungan sekitar, dan berbagai faktor lainnya. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gini Stephen Frings, seorang ahli fashion Barat:
“Because fashion reflects the way the consumer thinks and lives, it is influenced by the same social, economic, technological, and other enviromental forces, that influence all other aspects of people lives. Executives on all level of fashion industry must be aware of these environmental conditions if they are to make informed decision about styling and merchandising.”(Stephen F, Gini, “Fashion From Concept to Consumer“)
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Umberto Eco (1976) yang mengatakan bahwa fashion merupakan alat semiotika, yang didalamnya penuh dengan makna-makna. Seperti mesin yang dapat mengkomunikasikan pesan dari sang pemakai kepada orang lain yang melihat. Lalu apa yang hendak dikomunikasikan? Tentu tidak lepas dari identitas dari pemakainya.
Entah dari sudut pandang kelas sosial, ekonomi, budaya, bahkan tingkat pendidikannya.
Namun ketika fashion berada dalam ranah seni dan desain ala Barat, maka pembahasan fashion di Barat akan menggunakan paradigma Barat dalam melihat apa itu seni dan desain. Tentu hal ini menuntut pandangan tentang bagaimana Barat mendefinisikan estetika dan etika didalam seni dan desain fashion itu sendiri.
Ada dua hal yang harus dimengerti tentang seni menurut Barat, yaitu tentang pemahaman mereka terhadap kedudukan estetika dan etika. Kedua aspek inilah yang nantinya akan memberikan pembeda paling kontras antara desain/seni fashion di Barat dengan fashion Islam.
Istilah estetik biasanya dikaitkan dengan arti ‘citarasa yang baik’, ‘keindahan’ dan ‘artistik’. Estetika merupakan kajian yang menjadikan estetik sebagai objeknya. Dalam tradisi intelektual, biasanya estetika dipahami sebagai satu dari banyak cabang ilmu filsafat yang membahas tentang seni dan objek lainnya yang memiliki nilai estetik (baca: keindahan).
Di Barat, seni merupakan bagian dari kebudayaan modern yang mengedepankan rasionalisme dan materialisme.Kebudayaan yang demikian itu berusaha membuang aspek spiritualitas dan religiositas sejauh-jauhnya.
Artinya, tidak ada batasan apapun, termasuk agama, yang mereka gunakan dalam mengembangkan karya-karya seni dan desain di Barat.
Keindahan di Barat, seperti dalam tradisi modern, berakar pada realisme dan naturalisme. Hal ini yang menjadi alasan mengapa di Barat, fashion-fashion yang dianggap modern adalah yang mampu memberikan kesan natural dan apa adanya. Bahkan jika diterjemahkan dalam cara pandang mereka terhadap keindahan, maka bentuk tubuh manusia dianggap sebagai estetika seni tersediri, sehingga tidak menjadi masalah di Barat ketika tubuh telanjang dipamerkan di catwalk-catwalk pentas desain fashion.
Dimensi Ruhiyah
Sementara dalam Islam, jika cara pandang umat Islam terhadap fashion sudah tidak lagi menggunakan cara pandang Islam, maka aktifitas berpakaian bukan lagi bernilai ibadah sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kita untuk menutup aurat, berpakaian rapi, bersih dan suci.
Jika kita melihat fashion tidak pada aspek ruhiyah-nya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ajaran-ajaran Islam, maka sudah pasti kita akan melihat fashion hanya dari dimensi fisiknya saja. Sebagaimana Barat ‘mengajarkan’ fashion sebagai trend dan gaya, kita akan melulu memperhatikan cara berpakaian dari dimensi-dimensi yang materialistis alias duniawi. Motif berpakaian kita hanya sampai pada tataran agar kita dianggap memiliki kelas sosial tertentu, status cantik atau ganteng, berpendidikan atau tidak, norak atau tidak, dan lain sebagainya.
Tidak salah jika seseorang berpakaian dengan maksud ingin terlihat cantik. Tapi jika tujuan itu mengalahkan aturan-aturan tata berpakaian yang disyariatkan olh agama yang masing-masing kita bawah (baik Islam atau budaya lokal yang sering dibanggaan sebagaian orang) maka sesungguhnya cara berpikir Barat-lah yang kita pakai di mana estetika itu dilihat dari dimensi fisiknya. Bukan dimensi ruhiyahnya.
Sekarang, cara pandang dangkal ini sudah menjangkiti kita semua. Bahkan, pada mereka yang juga sok sering mengaku mempertahankan budaya lokal sendiri.
Bagi umat Islam sendiri, cara pandang sangat penting artinya. Yang mana yang kita pakai akan mempengaruhi bagaimana hasil yang akan kita terima di akhirat nanti.
Nah, sekarang, saatnya memilih, cara pandang Barat atau cara pandang kita sendiri? Silakan dipilih. Semua ada ditangan kita masing-masing. Wallahu a’lam.*

DAY….

Mungkin yang kualami saat ini merasakan kegundahan hati yangmendalam disaat jauh dari Allah.

Disaat waktu yang terbuang sia-sia, saat banyak hal yang dilakukan tidak banyak guna, padahal setiap detik waktu adalah ibadah…..

disaat belum bisa membagi waktu dengan sebaik-baiknya….waktu banyak yang dibuang sia-sia…..

MULAI DETIK INI JUGA WAKTUNYA UNTUK BERUBAH…….BISMILLAH SEMOGA ISTIQOMAH….

TIDAK ADA HAL YANG TERASA BERAT DISAAT KITA MELAKUKAN SEGALA HAL HANYA DAN UNTUK ALLAH…..